Kisah Dosen 'Gaib' di Kampus Favorit: Fakta atau Fiksi?
Setiap kampus, sefavorit dan semodern apa pun itu, selalu menyimpan cerita gelapnya sendiri. Di balik gedung-gedung megah dan deretan mahasiswa yang bersemangat, ada bisikan-bisikan tentang sebuah kehadiran yang tidak biasa. Di Kampus Harapan Bangsa, kampus favorit yang terkenal dengan prestasinya, cerita itu berpusat pada sosok seorang dosen. Dosen 'Gaib' yang jadwal mengajarnya selalu misterius, penampakannya samar, dan kehadirannya selalu meninggalkan jejak dingin di hati para mahasiswa.
Namaku Liana, mahasiswi tingkat akhir yang sedang sibuk mengerjakan skripsi. Aku mendengar kisah Dosen 'Gaib' ini dari kakak tingkatku. Katanya, ada seorang dosen senior yang sangat pintar, tapi dia hanya muncul sesekali, mengajar mata kuliah tertentu, dan hanya sedikit mahasiswa yang benar-benar pernah melihatnya dengan jelas. Lebih aneh lagi, tidak ada yang bisa mengingat namanya dengan pasti.
Aku menganggapnya hanya sebagai bualan atau mungkin dosen yang sangat sibuk. Sampai suatu hari, aku terpaksa mengambil mata kuliah pilihan yang hanya diajarkan oleh dosen misterius itu. Nama mata kuliahnya: "Metafisika Kontemporer." Awalnya aku senang, karena jadwalnya malam hari, jam 7 sampai 9 malam, pas dengan jadwalku yang padat.
Minggu pertama kelas, aku datang ke ruangan yang ditentukan. Ruangan itu besar, kuno, dan sedikit berbau apek. Ada sekitar dua puluh mahasiswa lain yang duduk dengan tenang. Aku mengambil tempat duduk di barisan tengah.
Tepat pukul tujuh, pintu ruangan terbuka. Masuklah seorang pria. Usianya mungkin sekitar lima puluhan, mengenakan kemeja batik berwarna gelap. Rambutnya disisir rapi, dan matanya memancarkan aura kebijaksanaan yang dalam. Dia mulai mengajar. Suaranya tenang, datar, tapi setiap kata yang keluar darinya terasa begitu menghipnotis. Dia membahas tentang dimensi lain, energi tak kasat mata, dan realitas yang tak terjamah panca indra. Aku terpesona.
Pelajaran selesai, dan semua mahasiswa keluar. Aku ingin bertanya sesuatu kepadanya, tapi saat aku melihat ke depan, dia sudah tidak ada di sana. Aku bertanya kepada teman di sebelahku. "Dosennya sudah pergi?"
Teman itu menatapku aneh. "Dosen? Siapa? Daritadi kita belajar sendiri, Liana. Mana ada dosen?"
Darahku berdesir dingin. Aku menoleh ke kursi dosen. Kosong. Bahkan papan tulis yang tadi penuh tulisan, kini bersih tak berbekas. Aku merasakan hawa dingin yang menusuk.
Minggu berikutnya, aku datang lagi. Kali ini aku bertekad untuk memastikan. Aku duduk di barisan paling depan. Tepat pukul tujuh, dosen itu masuk lagi. Dia mengajar materi yang sama, dengan suara yang sama, tatapan yang sama. Aku mencoba mengingat setiap detail wajahnya, setiap gerak-geriknya.
Saat kelas selesai, aku langsung menghampirinya. "Permisi, Pak," kataku.
Dosen itu menoleh. Senyum tipis terukir di bibirnya. Matanya yang tajam menatapku. "Ada apa, Nak?"
"Bapak mengajar di kelas ini setiap minggu, kan?" tanyaku, mencoba menahan getaran suaraku.
Dia mengangguk. "Tentu saja. Mengapa?"
"Apa nama Bapak?"
Dia tersenyum lagi. Kali ini senyumnya terasa aneh, dingin. "Kau akan tahu pada waktunya, Nak." Lalu, di depan mataku, tubuhnya mulai memudar. Seperti bayangan yang tertiup angin, dia menghilang begitu saja.
Aku berteriak. Mahasiswa lain menatapku bingung. Mereka mengatakan aku berhalusinasi. Mereka bilang aku kelelahan. Tapi aku tahu, dia nyata.
Aku mencoba mencari informasi tentang Dosen 'Gaib' itu di perpustakaan, di arsip kampus. Tidak ada nama, tidak ada riwayat, bahkan tidak ada foto. Hanya ada satu petunjuk kecil. Di sebuah buku sejarah kampus tua, ada sebuah artikel tentang seorang dosen yang meninggal secara tragis di kampus itu puluhan tahun yang lalu, tepat di ruang kelas yang sekarang kuikuti.
Kisah Dosen 'Gaib' itu bukanlah fiksi. Itu adalah fakta. Dia terus mengajar, terus berbagi pengetahuannya, bahkan setelah kematian menjemputnya. Dan aku, aku adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah menjadi mahasiswanya. Setiap kali aku melewati ruang kelas itu di malam hari, aku merasakan kehadirannya. Mengawasi, mengajar, menunggu mahasiswa berikutnya yang berani membuka diri terhadap realitas yang tak terlihat.

Komentar
Posting Komentar